Kamis, 02 Desember 2021 - RSUD Pariaman

Ayo Cegah Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dengan Menerapkan Perilaku CERDIK

  • Website Administrator
  • 12 November 2021
  • 5

Image by: idntimes.com-nps.org.au

 

Penyakit Paru Obstruktif Kronis atau sering disingkat PPOK adalah istilah yang digunakan untuk sejumlah penyakit yang menyerang paru-paru untuk jangka panjang. 

Penyakit ini menghalangi aliran udara dari dalam paru-paru sehingga pengidap akan mengalami kesulitan dalam bernapas. PPOK umumnya merupakan kombinasi dari dua penyakit pernapasan yaitu bronkitis kronis dan emfisema. Bronkitis adalah infeksi pada saluran udara menuju paru-paru yang menyebabkan pembengkakan dinding bronkus dan produksi cairan di saluran udara berlebihan. Sementara Emfisema adalah kondisi rusaknya kantung-kantung udara pada paru-paru yang terjadi secara bertahap.

PPOK merupakan penyebab kematian nomor tiga di dunia, menyebabkan 3,23 juta kematian pada tahun 2019. Lebih dari 80% dari kematian ini terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sementara itu di Indonesia PPOK merupakan satu dari empat penyakit tidak menular (PTM) utama yang 60% menyebabkan kematian. PPOK menempati posisi pertama pada 10 penyakit terbanyak di RSUD Pariaman.

Selain bronkitis dan enfisema, berikut ini adalah beberapa penyebab PPOK:

  1. Kebiasaan merokok

Merokok, baik aktif maupun pasif, merupakan penyebab utama PPOK. Diperkirakan sekitar 80–90% kasus PPOK disebabkan oleh kebiasaan merokok atau menghirup asap rokok dalam jangka panjang. Ketika seseorang menghirup asap rokok, bahan kimia berbahaya dalam asap tersebut dapat menyebabkan jaringan dinding saluran pernapasan dan paru-paru meradang dan membengkak. Seiring waktu, hal ini dapat membuat saluran napas dan paru-paru tidak dapat berfungsi dengan baik. Selain itu, asap rokok juga dapat merusak sel-sel rambut di saluran napas (silia), sehingga fungsinya untuk mengeluarkan lendir, kuman, virus, dan partikel berbahaya yang berada di saluran pernapasan menjadi terganggu. Kondisi inilah yang menyebabkan para perokok rentan mengalami PPOK.

2. Polusi udara

Kebiasaan menghirup udara kotor atau paparan polusi udara juga pemanasan global dalam jangka panjang dapat membuat paru-paru rusak cepat rusak, sehingga memicu terjadinya PPOK. Beberapa jenis polutan atau pencemar udara yang dapat menyebabkan PPOK, di antaranya asap kendaraan, asap pabrik, debu, abu batu bara atau kabut asap hasil pembakaran hutan, asap las, serta debu silika.

3. Faktor genetik

Kelainan genetik ternyata juga bisa menjadi penyebab PPOK. Kelainan ini terjadi ketika tubuh penderita PPOK tidak bisa menghasilkan zat alpha-1-antitrypsin dalam jumlah yang cukup. Alpha-1-antitrypsin merupakan protein yang berfungsi untuk melindungi paru-paru. Tanpa protein ini, paru-paru akan menjadi lebih mudah rusak dan meradang akibat paparan asap dan debu. Seseorang yang tubuhnya kekurangan alpha-1-antitrypsin biasanya akan menderita PPOK di usia yang lebih muda, terutama jika memiliki kebiasaan merokok.

4. Asma

Dalam beberapa kasus, penyakit asma yang tidak diobati lambat-laun akan merusak paru-paru hingga menyebabkan PPOK. Akan tetapi, tidak semua penderita penyakit asma akan mengalami PPOK.

 

 Adapun gejala PPOK antara lain:

  1. Batuk kronik dengan/tanpa dahak yang tidak kunjung sembuh.
  2. Makin sering tersengal-sengal, bahkan saat melakukan aktivitas fisik yang ringan seperti memasak atau mengenakan pakaian.
  3. Mengi atau sesak napas disertai berbunyi.
  4. Lemas (kehilangan kemampuan/produktivitas).
  5. Sering mengalami infeksi paru.
  6. Penurunan berat badan.

PPOK menyebabkan penderitanya sulit bernapas. Bila terus dibiarkan, penderita juga dapat mengalami komplikasi serius seperti Depresi, Diabetes, Sleep Apnea, Demensia, Hipertensi Pulmonal, Berat badan turun drastis, Pneumonia, Pneumothorax, Kanker Paru-Paru, Atrial Fibriasi, Gagal Jantung, serta Gagal Napas.

Jika Anda mengalami sesak nafas dan batuk berdahak yang memburuk atau terjadi pada waktu yang lama, maka Anda harus menemui dokter secepat mungkin. Walaupun gejala tersebut tidak selalu mengarah pada PPOK, namun konsultasi dokter diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan lain. Dalam pertemuan dengan dokter, Anda akan ditanya mengenai riwayat kesehatan termasuk riwayat merokok, asma atau paparan terhadap polutan. Jika Anda dicurigai menderita PPOK, maka dokter Anda akan merujuk ke dokter spesialis paru untuk pengobatan.

PPOK merupakan penyakit yang dapat dicegah.  Diantaranya dengan menerapkan perilaku CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkah asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stres).

Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala ke klinik, puskesmas atau rumah sakit agar kondisi kesehatan selalu terpantau. Berhenti merokok atau hindari asap rokok. Jika Anda perokok aktif, segeralah berhenti merokok, sehingga Anda dapat terhindar dari komplikasi yang mungkin terjadi di kemudian hari. Lakukan olahraga secara rutin minimal selama 30 menit per hari. Jaga pola makan yang sehat dan seimbang. Istirahat yang cukup dan kelola stres juga tak kalah penting dalam mencegah PPOK.

Mari terapkan perilaku CERDIK dalam kehidupan sehari-hari agar kita terhindar dari PPOK.

 

Daftar Rujukan:

  1. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI. Apa itu Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)? Diakses pada 2021, dari http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/penyakit-paru-kronik/page/34/apa-itu-penyakit-paru-obstruktif-kronik-ppok
  2. WHO. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Diakses pada 2021, dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chronic-obstructive-pulmonary-disease-(copd)
  3. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI. Strategi Pencegahan dan Pengendalian PTM di Indonesia. Diakses pada 2021, dari http://www.p2ptm.kemkes.go.id/profil-p2ptm/latar-belakang/strategi-pencegahan-dan-pengendalian-ptm-di-indonesia
  4. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI. Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Diakses pada 2021, dari http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/penyakit-paru-kronik/page/34/gejala-penyakit-paru-obstruktif-kronik-ppok
  5. Kevin Adrian. Ketahui Penyebab PPOK dan Langkah Pencegahannya. Diakses pada 2021, dari https://www.alodokter.com/ketahui-penyebab-ppok-dan-langkah-pencegahannya
  6. Rizki Tamin. Penyakit Paru Obstruktif Kronis. Diakses pada 2021, dari https://www.alodokter.com/penyakit-paru-obstruktif-kronis
  7. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI. Kenali Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Diakses pada 2021, dari http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/kenali-penyakit-paru-obstruktif-kronik-ppok 
  8. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI. Ingat CERDIK untuk mencegah risiko dari berbagai penyakit tidak menular. Diakses pada 2021, dari http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic/ingat-cerdik-untuk-mencegah-risiko-dari-berbagai-penyakit-tidak-menular

 

 


Cari Artikel

Profil

Alamat :
Jl. Prof. M. Yamin, SH. No.5 Pariaman, Kec. Pariaman Tengah, Kota Pariaman, Prov. Sumatera Barat

Telpon :
(0751) 91118 - 91428

Fax :
(0751) 91428 - Fax Direktur

Email :
rsudpariaman.sumbarprov@gmail.com

Emergency Number

Hasil Polling

Bagaimana pelayanan RSUD Pariaman ?

Cukup Baik9.4%

Baik25.9%

Sangat Baik37.6%

Lain- lain27.1%

Ikuti Vote Disini

Link